
Liburan natal dan tahun baru (Nataru) sekitar Desember 2024 yang bersamaan dengan liburan sekolah hingga minggu pertama Januari 2025, berdampak terhadap peningkatan penggunaan pelbagai moda transportasi, dari moda yang berbiaya murah hingga berbiaya mahal, dan ini ditunjang pula oleh kondisi infrastruktur sarana/prasarana transportasi yang sudah cukup memadai. Oleh karenanya tidak mengherankan mobilitas penduduk antar kota dalam satu provinsi,atau antar kota antar provinsi mengalami peningkatan signifikan pada tahun 2024 lalu.
Praktis kegiatan kepariwisataan dalam negeri turut terpengaruh pula secara positif, diantaranya dapat dilihat dari kunjungan wisatawan di daerah bersangkutan, seperti yang dialami Kota Yogyakarta. Peningkatan kunjungan wisatawan ke Kota tersebut tidak terlepas dari daya tarik salah satu andalan obyek wisatanya, yaitu ke keberadaanKawasan Malioboro terutama di malam hari, yang menawarkan banyak alternatif kuliner khas nusantara/lokal, gedung cagar budaya (heritage) dengan gaya arsitektur tempo dulu serta tidak kalah menarikya adalah tersedianya fasiltas bagi pejalan kaki (pedestrian) yang tidak terkesan kumuh lagi, karena para pedagang (pelaku usaha kecil) telah disediakan tempat tersendiri di 2 tempat yang berbeda (Teras Yogya 1 dan 2).
Keberadaan pedestrian ini menjadikan para wisatawan merasa dimanjakan dengan fasiltas tempat duduk yang artistik, seniman jalaman yang siap menghibur serta resto/cafe untuk bersantai ataupun sekedar melepaskan lelah setelah seharian berwisata di Yogyakarta sembari menikmati kuliner khas, terutama bagi para wisatawan yang memilih akomodasi seputar Kawasan Malioboro, mulai dari losmen kelas melati hingga hotel berbintang.
Malioboro a la Kota Malang
Dalam 2 tahun terakhir ini Kota Malang sudah memiliki kawasan a la Malioboro, yaitu sepanjang jalan Jend. Basuki Rahmat yang oleh penduduk setempat biasa disebut Kawasan “Kayoe Tangan” , dimana di kawasan sekitarnya memiliki beberapa heritage yang masih berfungsi dengan baik dan dijaga keasliannya, seperti rumah ibadah berupa Mesjid dan Gereja serta gedung perkantoran pemerintahan, perbankan dan perniagaan. Kawasan sekitar Kayoe Tangan merupakan pusat kota sejak zaman penjajahan Belanda hingga saat ini yang dibuktikan dari keberadaan Alun-alun Kota.
Tidak terdapat perbedaan menyolok antara Kawasan Malioboro di Yogyakarta dengan Kawasan seputar Kayoe Tangan (Malang Heritage) , yaitu sama-sama menonjolkan fungsi trotoar sebagai pedestrian yang ramah bagi pejalan kaki, dan ketersediaan resto/cafe yang menjajakan makanan berupa selera nusantara dan makanan kekinian a la oriental terutama Jepang dan Korea. Demikian pula keberadaan seniman jalanan tetap mendapatkan tempat, sebagai wadah bagi seniman lokal menngekspresikan karya/keterampilan seninya.
Sebagai sentra pedestrian harus memberikan kesempatan bagi pelaku usaha kecil, khususnya penjaja makanan lokal agar dapat memanfaatkan peluang (“ekonomi”) yang berimbang dengan pelaku usaha lainnya yang memiliki modal lebih kuat. Pemeintah Kota Malang tidak menampik fakta seperti ini, dengan cara menjadikan gang-gang kecil di sekitar Kayoe Tangan ditata dengan baik dan memberikan dorongan bagi warganya untuk menjajakan makanan/minuman khas Jawa Timuran, karena potensi pembelinya tersedia khususnya dari kalangan anak muda maupun mereka yang berpenghasilan rendah. Tidak boleh ada yang merasa tersinggirkan dalam memanfaatkan peluang ekonomi, apalagi melakukan diskriminasi yang merugikan pedagang (pelaku ekonomi) lemah. Geliat ekonomi lokal tentunya akan bergerak positif dan mampu menciptakan lapangan perkerjaan di sektor non formal.
Permasalahnnya, baik di Yogyakarta maupun di Malang adalah penyediaan fasilitas bagi pedestrian yang tersentralisasikan dapat dipastikan akan memunculkan kemacetan lalu lintas, walaupun telah dilakukan rekayasa lalu lintas, sehingga hal ini harus menjadi perhatian bagi Pemerintah Daerah setempat.
Mungkinkah Kota Samarinda Membangun Kawasan a la Malioboro
Keberhasilan Pemerintah Kota Malang menata Kawasan Kayoe Tangan yang konsepnya tidak berbeda dengan Kawasan Malioboro dapat dijadikan referensi, apabila Pemerintah Kota Samarinda ingin mengembangkan kawasan pedestrian dengan segala fasilitas pendukungnya, karena ini sudah menjadi tuntutan masyarakat sejalan dengan perkembangan pembangunan Kota dan pertambahan penduduk yang terus meningkat, selama periode 2020 – 2023 laju pertumbuhan penduduk Kota Samarinda mencapai rata-rata 1,16 %/tahun, mengingat pada tahun 2020 lalu jumlah penduduk-nya hanya mencapai 817.254 jiwa, pada tahun 2023 sudah mencapai 86.878 jiwa, sehingga berdasarkan laju pertumbuhan tersebut maka diperkirakan jumlah penduduk Kota Samarinda pada tahun 2024 akan mencapai 871.876 jiwa.
Permasalahan mendasar yang dihadapi Pemerintah Kota Samarinda adalah dimana lokasi tepatnya membangun kawasan pedestrian yang tidak menimbulkan kemacetan lalu lintas permanen dan menjadikan kawasan tersebut dapat berkembang, karena didorong secara mandiri oleh para pelaku ekonomi yang mendapatkan manfaat langsung dari keberadaan kawasan tersebut. Disamping menyebarkan sentra kegiatan masyarakat yang tidak terfokus di satu kawasan saja, seperti Kawasan Perniagaan di Citra Niaga.
Kawasan Citra Niaga yang saat ini sedang ditata ulang lingkungannya, sangat dimungkinkan menjadi sentra pedestrian, karena sejak awal sudah dikondisikan sebagai kawasan perniagaan dan hiburan. Namun masih tetap menyisakan masalah kemacetan lalu lintas dan ketersediaan lahan parkir. Oleh karenanya perlu ada alternatif kawasan pedestrian lainnya dengan kharakteristik yang diharapkan berbeda konsepnya dibandingkan dengan Kawasan Malioboro Yogyakarta dan Kawasan Kayoe Tangan Malang.
Salah satu alternatif kawasan pedestrian yang tepat untuk Kota Samarinda adalah menonjolkan kawasan di sekitar tepian Sungai Mahakam sepanjang jalan Selamat Riyadi (atau bisaa disebut “Karang Asam”), yaitu diawali dari tepian Sungai Mahakam di depan Islamic Center hingga depan Polresta Samarinda, karena masih memungkinkan untuk menata jalur pedestrian sejalan dengan menata kembali trotoar dan area parkir kendaraan, karena jalan Selamat Riadi hingga jalan Untung Surapati merupakan jalan yang padat lalu lintasnya saat ini.
Kawasan Malioboro a la Samarinda Bernuasa Alami
Keunggulan kawasan pedestrian Kota Samarinda idealnya didukung keberadaan Sungai Mahakam, sehingga menjadi lebih alami nuasanya dibandingkan Kawasan Malioboro Yogyakarta maupun Kawasan Kayoe Tangan Malang, sehingga dalam penataan kawasan seharusnya dikombinasikan dengan program panataan taman kota sebagai ruang terbuka hijau serta sebagai pusat hiburan berupa taman bermain bagi anak-anak dan pentas seni.
Sementara untuk kulinernya lebih mengedepankan eksistensi pelaku usaha kecil yang menjajakan makanan/minuman di tempat yang sudah disediakan, yang dikelola secara ramah lingkungan, dan/atau menyediakan fasilitas secara mobile berupa food truck atau gerobak di lokasi yang telah ditentukan.
Sedangkan bagi pelaku usaha menengah keatas difasilitasi untuk dapat memanfaatkan rumah/toko/ruko berbasis B to B di sepanjang jalan Selamat Riadi hingga jalan Untung Suopati, dengan membuka resto/café yang menyediakan makanan/minuman yang tidak dijual pedagang (pelaku usaha lemah) di dalam kawasan pedestrian. Konsep ini akan mengeliminasi dini terjadinya persaingan usaha secara terbuka (head to head), karena sudah dilakukan pemisahan berdasarkan area penjualan dan jenis makanan yang dijajakan.
Keberadaan taman kota (ruang terbuka hijau) di sekitar tepian Sungai Mahakam apabila dapat dikemas dengan baik, tentunya akan memunculkan suasana eksotik dan menciptakan kesan rileks yang umumnya dibutuhkan masyarakat urban. Apalagi tersedia fasilitas tempat bermain bagi anak-anak yang selama ini masih dirasakan relatif kurang. Tempat bermain bagi anak-anak bukan sekedar tempat bermain semata namun lebih dari itu fungsinya, yaitu dapat menjadi interaksi sosial antar anak dalam rangka pembentukan kharakter. Sementara bagi rumah tangga ketersedian fasilitas tempat bermain anak merupakan hiburan yang murah untuk acara santai keluarga dan tidak membedakan strata sosial.
Generasi milenial sekarang ini membutuhkan hiburan dan memiliki kreatifitas untuk mengekpresikan penampilan/perasaannya secara terbuka, disamping sikap yang lebih kritis karena umumnya mereka memiliki pengetahuan cukup baik tentang IT khususnya kemampuan informatika, sehingga generasi milenial ini memiliki banyak saluran untuk mendapatkan data/informasi hanya dengan sekedar memanfaatkan smartphone. Demikian pula terhadap dinamika kehidupan mereka lebih dinamis.
Oleh karenanya, kehadiran taman kota yang dilengkapi fasilitas pentas seni yang disediakan secara khusus dan terbuka adalah lebih baik dibandingkan dengan menjadikan trotoar sebagai panggung seni bagi anak-anak (“seniman”) muda Kota Samarinda, karena tidak sejak awal tidak menjadikan mereka sebagai seniman jalanan. Sebaliknya, keberadaan pentas seni menjadikan mereka mendapatkan tempat selayaknya untuk berkarya. Diharapkan kawasan pedestrian di tepian Sungai Mahakam yang kita idamankan bersama bukan saja akan menumbuhkan geliat ekonomi sektor non formal, namun dapat pula menumbuhkan talenta-talenta seni dari anak muda kita (//drs, Samarinda 17/01/2025).





Users Today : 37
Users Yesterday : 87
This Month : 705
This Year : 705
Total Users : 39732
Views Today : 169
Total views : 63491
Who's Online : 1
Leave a Reply