SAMARINDA BANJIR LAGI – Adu Konsep Para Calon Walikota; Berani !!

28 Views

P e n g a n t a r

Bangun pagi sekitar pkl 03.00 wita, sudah mulai turun hujan cukup deras dan sampai pukul 08.00 masih tetap hujan. Dalam benak saya pasti akan terjadi banjir pada lokasi-lokasi tertentu yang memang rawan banjir. Dalam rekam jejak digital, banyak komen para netizen yang disampaikan, baik dengan cara santun sampai celotehan yang memaki para pihak yang seharusnya bertanggungjawab terhadap masalah banjir ini. Anehnya, para calon Walikota/Wakil Walikota tidak ada yang memberikan komen signifikan terhadap masalah banjir terutama ide-ide (“konsep”) mengatasi banjir, dan kalau hanya sekedar mengunjungi penduduk yang terkena musibah banjir dan kemudian membagikan sembako, bukanlah hal yang prinsip untuk menunjukkan kualitas pemikiran (“ide”).    

 

A. Berdebat konsep mengatasi banjir

Awal minggu pertama Januari 2020 kita masih ingat sidak pak Jokowi memantau banjir besar di Jakarta, dan tindaklanjutnya adalah memerintahkan kepada Menteri PUPR untuk membantu mengatasi masalah banjir ini berkoordinasi dengan Pemerintah DKI Jakarta. Konsep Kementrian adalah melakukan normalisasi saluran sepanjang kali yang ada. Upaya ini terbukti cukup berhasil, karena sekitar kali yang sudah dinormalisasi tidak mengalami banjir besar, dibandingkan dengan kawasan yang belum dilakukan normalisasi. Sementara Anies Baswedan cukup pede dengan konsep naturalisasi kali, walaupun lahan terbuka sekitarnya yang akan dinormalisasi relatif terbatas.

Silahkan saja para ahli berdebat konsep mana yang terbaik, tapi satu hal yang perlu kita acungi jempol, yaitu ada konsep untuk mengatasi banjir, terlepas dari konsep mana yang paling baik, karena setiap konsep pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Kemenrian PUPR sudah siap melaksanakannya, sesuai dengan arahan Presiden, sementara Anies Baswedan sudah menganggarkannya dalam APBD tahun 2020. Kita tunggu saja nantinya; apakah banjir di Jakarta dapat diatasi atau paling tidak berkurang.

 

B. Konsep Kota Surabaya

Saya tidak enak menyebutkan ini sebagai konsep ibu Risma, karena tidak enak dengan Walikota/Wakil Walikota petahana maupun para calon yang berebut kursi Walikota/Wakil Walikota Samarinda tahun 2020 ini, karena seakan-akan lebih menonjolkan ibu Risma, sehingga cukup santun kalau ini saya kata konsep a la Surabaya aja dech.

Kota Surabaya pada musim hujan sekarang ini, sama halnya dengan Kota lain, dihadapkan pada masalah banjir. Namun, bedanya adalah banjir di Surabaya cepat surut dan tidak terlalu parah. Pertanyaannya; bagaimana ini bisa dilakukan. Tidak ada jawaban terlalu ilmiah untuk mengatasi banjir, yaitu cukup benahi drainase yang bermuara ke kali yang ada di Kota Surabaya. Kali-kali tersebut rutin dikeruk dan pintu-pintu air selalu dibersihkan. Lingkungan disekitar kali dijadikan taman dan ruang terbuka hijau. Saat ini, Kota Surabaya aktif membangun sumur- sumur sungai, yang airnya dapat dijadikan air baku untuk menyiram taman kota. Drainase disepanjang jalan berfungsi dengan baik dalam menyalurkan air sampai ke kali terdekat.

Cukup sederhana saja konsep penanganan banjir Kota Surabaya, yaitu benahi drainase dan kali-kali yang ada dinormalisasikan dengan baik sebagai penampungan, dan dinaturalisasikan dengan menata lingkungan sekitarnya tanpa ada pemukiman.

Untuk dapat melakukan itu semua diperlukan biaya yang cukup besar pada awalnya, namun tahapan berikutnya hanya diperlukan kegiatan pemeliharaan berkala. Dalam banyak kesempatan, Gubernur Kalimantan Timur mengatakan bahwa salah satu program prioritas beliau adalah mengatasi banjir Samarinda, dengan menata kembali Sungai Karang Mumus, sekitar kawasan Air Putih dan Karang Asam. Ini merupakan isyarat yang seharusnya direspon sebagai peluang oleh para calon Walikota/Walikota, dengan mengajukan program mengatasi banjir yang disinkronkan dengan program yang dicanangkan oleh Gubernur.

 

C. Rasa sungkan atau memang belum ada konsep

Sebagaimna telah diutarakan diatas bahwa belum ada calon Walikota/Wakil Walikota yang menyampaikan konsep penanganan banjir; apakah sungkan untuk mendahului yang lain; atau memang masih mencari konsep yang tepat untuk disampaikan; atau menunggu waktu yang pas untuk mengutarakannya. Padahal ini adalah waktu yang pas, untuk membuktikan konsep yang dapat ditawarkan.

Penanganan banjir di Kota Samarinda merupakan komoditas politik yang dapat dimanfaatkan untuk mendulang suara pada Pilkada serentak tahun 2020 ini. Saat ini waktu yang tepat, karena faktanya di beberapa lokasi masyarakat mengalami banjir. Data pantauan ITS – TRC di kawasan Kota Samarinda yang ter-locksheed genangan/banjir ada 17 titik, dengan rata-rata genangan air 20-60 cm pada pukul 07.30 wita (Sabtu, 11 Januari 2020), dan cenderung bertambah.

Perlu keberaniaan menawarkan konsep untuk mengatasi banjir di Kota Samarinda dan siap diserang oleh lawan poiitik dan para pemerhati, tapi ini lebih baik daripada tidak memiliki konsep, sehingga masyarakat bisa menilai kualitas calon Walikota/Wakil Walikota. Masyarakat semakin cerdas dan memiliki saluran informasi terutama medsos yang dapat up date informasi terkini. Jangan takut untuk utarakan konsep pada saat ini. Apabila ada kritik, saran, celaan dan lain sebagainya maka jadikan masukan untuk segera melakukan perbaikan konsep. Silahkan, jangan takut (**dirus-ide).

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *