Press ESC to close

Menyelamatkan Seni Kerajinan Tangan Tenun Ikat Aoheng & Sulaman Bahau – Merefleksikan kiprah seorang Kartini Perbatasan – Theodora Hangin Bang Donggo Dari Kepunahan

 

Kiprahnya dalam mengembangkan seni kerajinan anyaman etnis dayak 
telah menjadikan dirinya sebagai penerus perjuangan kartini, 
tanpa disadarinya sendiri. 

Setiap tahun, tepatnya pada tanggal 21 April; kita selalu memperingati Hari Kartini sebagai manifestasi dari semangat perjuangan kaum wanita Indonesia untuk maju; mencapai kesetaraan jender, tanpa melepaskan kodratnya sebagai wanita. Dalam konteks saat ini, banyak kiprah yang dapat dilakukan oleh kaum wanita, seperti apa yang dituliskan dalam Kompas (Jum’at, tanggal 19 April 2013); disebutkan bahwa kondisi saat ini menjadi titik-titik kritis yang bisa menghambat dalam mencapai MDG, dan selanjutnya menjadi peluang untuk memanfaatkan bonus demografi 2020-2030; berupa peningkatan kesejahteraan. Namun untuk mencapainya tidak mudah, karena tingkat fertilitas total (TFR) para kaum wanita harus diturunkan menjadi 2,01 – 1,87, dimana saat ini masih berada dikisaran 2,6. Demikian pula tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat Indonesia perlu lebih ditingkatkan lagi. Kesemuanya ini mengarah pada bagaimana mengupayakan kesetaraan jender sebagai kunci utama. Ini bukan berarti wanita diatas segalanya, namun harus kita akui bersama bahwa kesetaraan jender tadi akan menyadarkan para kaum wanita terhadap hak-haknya dalam mengatur dirinya, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun pengembangan diri – kesemuanya akan bermuara pada perencanaan jumlah anak yang ideal dan kesempatan menciptakan kehidupan rumah tangga yang lebih berkualitas. Artinya, kembali pada peran wanita terutama wanita muda.
Kiprah diatas tadi merupakan sekedar gambaran umum betapa kaum wanita Indonesia tidak dapat lagi dipandang sebelah mata, baik dalam perspektif kekinian maupun masa yang akan datang. Namun, bagaimana halnya dengan kiprah wanita yang bertautan dengan kehidupan sehari-hari – dalam konteks ini banyak contoh yang dapat dijadikan rujukan keberhasilan, seperti apa yang dilakukan oleh seorang wanita yang bernama Theodora Hangin Bang Donggo. Lahir dari etnis dayak asli – Dayak Aoheng, yang keberadaannya (“suku ini”) sebagian besar berada di pedesaan Kecamatan Long Apari – salah satu dari 19 Kecamatan perbatasan di Kalimantan Timur.

Semangat Untuk Terus Belajar
Ibu   Hangin  lahir  di Tiong Ohang (saat ini sudah menjadi ibukota  Kecamatan    Long  Apari),  pada  tanggal 10 Pebruari   1956,   namun   setelah  memasuki masa remaja pindah ke Long Bagun, karena orang tuanya beralasan ingin memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya; Ini dapat dimaklumi, mengingat pendidikan tertinggi yang ada di Tiong Ohang saat itu hanya sampai jenjang SD.
Setelah menyelesaikan pendidikan SPG C di Long Iram pada tahun 1971, ibu Hangin  tidak melanjutkan pendidikannya lagi; bukan karena alasan ekonomi ataupun ketidak- mampuan akademik; Semangat untuk belajar tetap bergelora, namun apa daya – keterbatasan jenjang pendidikan lanjutan atas relatif terbatas disekitar wilayah pedalaman (apalagi di kawasan perbatasan) pada saat itu.  Semangat belajar tetap tinggi sampai saat ini, hanya saja semangat  tersebut  diwujudkan  dalam  bentuk  lainnya, yaitu terus belajar untuk mengembangkan kerajinan anyaman asli etnis dayak, terbukti pada tahun 2007 lalu – ibu Hangin mendapatkan penghargaan dari UNESCO atas kiprahnya mengembangkan seni kerajinan ini. Ibu Hangin mampu mensejajarkan kreatifitas seni anyaman etnis dayak dengan etnis sasak (Lombok – Nusa Tenggara Barat, yang menggunakan bahan baku utama anyaman dari bambu), dengan nilai artitistik bervariasi berdasarkan latar belakang etnis asalnya – mengingat setiap etnis dayak berbeda motif kerajinannnya, walaupun sama-sama menggambar hubungan sakral manusia dengan alam sekitarnya, maupun hubungannya dengan Tuhan; Disamping tingkat kerumitan seni anyaman-nya yang cukup tinggi, sehingga man mampu menghasilkan produk seni yang tidak lepas dari akarnya, walaupun ada sentuhan modifikasi seni kontemporer, sebagai implikasi dari permintaan pasar.

Kelebihan Seorang Hangin
Keaslian seni anyaman etnis dayak tetap bertahan, namun permintaan pasar, baik menyangkut motif dan penggunaan bahan baku terus berkembang. Disinilah peran ibu Hangin sangat terasa – mampu mengikuti arah perkembangan pasar. Ibu dari 2 orang anak ini; masing-masing 1 orang putra dan putri; aktif mengikuti pelbagai even pameran (eksebishi) didalam dan luar negeri maupun mengikuti studi banding atas undangan instansi pemerintahan. Dari sini beliau banyak belajar mengenai teknis anyaman dari daerah (suku) lain di Indonesia.

Kelebihan lainnya adalah mampu untuk berbagi ilmu tanpa merasa takut tersaingi; bahkan sebaliknya, dengan berbagi ilmu beliau termotivasi untuk terus belajar. Ini yang menjadi latar belakang; mengapa beliau tetap terus berkiprah pada Yayasan Bhakti Total Bagi Indenesia Lestari – Balikpapan, karena  melalui Yayasan inilah peran edukasi tersebut diimplementasikannya, tidak menonjolkan diri sebagai salah seorang perintis yang telah membesarkan Yayasan tersebut tetap eksis sampai dengan saat ini.

 

Salah satu motif sulaman etnis dayak Aahong yang ditemui di Long Tuyoq

Kelebihan berikutnya adalah mampu merubah pola pikir para pengrajin seni anyaman di kawasan perbatasan, seperti di Long    Apari   (dayak  Aoheng),   Bahau   Hulu
(dayak Kenyah) dan Krayan (dayak Lundayeh),  bahwa seni menganyam bukan sekedar pencitraan budaya, akan tetapi dapat memberikan penghasilan tambahan,  selama  pengrajin  bersang-kutan     mau    bersungguh-sungguh   dan
konsisten dalam menjaga kualitas hasilnya. Ibu Hangin telah membuktikan sendiri – Art Shop yang dimilikinya (CV. Matan di Samarinda) berkembang cukup pesat.  Ini bukti kemampuan beliau memperluas jaringan pemasaran, dipadukan dengan kemampuan menjaga kestabilan pasokan yang berada dipedalaman (termasuk kawasan perbatasan). Koneksitas seperti ini lazimnya dilakukan oleh perusahaan yang mampu menerapkan manajemen moderen; bukankah beliau sendiri hanya mengenyam pendidikan sampai jenjang sekolah lanjutan pertama – terlebih lagi koneksitas ke pedalaman/perbatasan, dengan segala keterbatasan pilihan moda angkutannya dan kondisi fisik infrastruktur transportasi yang masih minim, menjadi kendala  tersendiri.  Kenyataannya beliau mampu melakukannya, meskipun dalam skala terbatas. Ini semua ditopang oleh kemauan untuk terus belajar dan ditempa oleh pengalaman lapangan yang terbentuk secara otodidak.

Obsesi Memecahkan Rekor Muri
Memecahkan rekor Muri bukanlah hal yang mudah; perlu kerja keras dan kerjasama semua pihak yang berkepentingan (“sama kepentingannya”). Pertanyaannya; apa yang menjadi obsesi ibu Hangin – beliau ingin membuat anyaman rotan sepanjang ± 150 – 200 m; membentang sepanjang jembatan sungai Mahakam dalam kisaran tersebut.
Caranya cukup sederhana, yaitu setiap suku/anak suku etnis daya di Kalimantan Timur, paling tidak 15 – 20 suku/anak suku diminta membuat anyaman dari rotan yang panjangnya 10 m dan lebar 2 – 3 m (ditentukan kemudian ukuran pastinya). Motif sesuai suku/anak suku bersangkutan. Dalam batasan waktu yang telah ditentukan semua hasil anyaman tadi dikumpulkan, dan dibentangkan pada momen yang memiliki nilai sejarah, seperti perayaan Hari Kemerdekaan RI atau ulang tahun Provinsi Kalimantan Timur; dan sangat mungkin dilaksanakan bersamaan dengan peresmian jembatan kembar sungai Mahakam.
Motif dirancang terlebih dahulu, dimana pertemuan tepi anyaman satu dengan lainnnya saling bertaut dengan harmonisnya. Motif tersebut sebelum dijadikan anyaman harus ada pengakuan (approval) dari Kepala Adat; bahwa motif tersebut memang benar sebagai motif asli suku/anak suku bersangkutan. Pembentangan anyaman dilakukan oleh setiap suku/anak suku pada momen yang disepakati – pada saat itulah rekor Muri akan diraih. Hasil anyaman disimpan di Museum Mulawarman dan didokumentasikan dalam bentuk buku.
Sederhana saja obsesi tersebut, dan mampu diwujudkan – selama semua pihak yang memang berkepentingan terutama para pencinta dan peduli terhadap kelestarian seni budaya, khususnya seni anyaman asli etnis dayak; mau membantu . jangan kita biarkan ibu Hangin berjalan sendiri; kiprahnya selama ini sudah cukup menjadi goodwill bagi kita untuk merealisasikan obsesi tersebut.
Ini dapat menjadi momentum untuk menghidupkan kembali seni anyaman yang mulai kurang diminati oleh kaum muda di pedalaman (termasuk perbatasan); terbukti dari para pelaku (“pengrajin”) yang menggelutinya lebih banyak kaum wanita berusia 35 tahun keatas; dan inipun dilakukan sebagai kegiatan sambilan – pengisi waktu luang, setelah menyelesaikan urusan rumah tangga atau membantu suami berladang. Faktor-faktor penyebab utamanya adalah; Pertama, seni kerajinan ini tidak dianggap sebagai kegiatan produktif yang dapat menghasilkan pendapatn; Kedua, peluangnya pasarnya terbatas dilingkungan sekitarnya, belum ada terobosan untuk penetrasi pasar keluar, akibat keterbatasan informasi pasar dan jalur pengirimannya belum terbentuk; Dan ketiga, masuknya barang-barang moderen yang harganya lebih murah; menjadi disinsentif untuk melakukan inovasi dan berkreasi. Padahal bahan baku yang disediakan alam sekitarnya cukup tersedia.

Selalu Mengedepankan Keaslian
Ciri khas produk seni yang dikembangkan ibu Hangin; selain mempertahankan keaslian motifnya, juga memperhatikan kualitas penggunaan bahan baku dari lingkungan sekitarnya maupun proses pewarnaannya – semua serba alami. Pada Festival Seni Anyaman Adi Kriya Kalimantan di Betara Budaya Jakarta, tanggal 27 Maret – 7 April 2013 (Kompas, Kamis, 28 Maret 2013) – semua yang hadir mengapresiasi produk yang ditampilkan – bernilai artistik tinggi.
Saat ini beliau sedang memikirkan; bagaimana serat ulap dayo (sejenis daun yang banyak tumbuh dihutan Kalimantan Timur terutama disekitar Tanjung Isui); menjadi lebih halus, sehingga dapat dijadikan tenunan ikat yang lebih halus lagi. Kedepannya, tenunan ulap doyo ini akan dijadikan “icon tenun ikat” Kalimantan Timur. Saat ini, akibat proses pengolahan yang masih sederhana, maka tekstur serat yang dihasilkan masih kasar, oleh karenanya tenun ikat yang dihasilkan masih kasar pula. Perkembangan teknologi terkini memungkinkan untuk menghasilkan serat yang cukup halus; dan proses ini sedang menjajaki pemikiran kearah tersebut.

Upaya Penyelamatan Seni yang Akan Punah 
Selain ulap doyo yang identik dengan tenunan asli etnis dayak Benuag; masih ada lagi tenunan lainnya dari dayak Aoheng, namun saat ini sudah tidak ada lagi masyarakat  dayak Aoheng  yang membuatnya,  sehingga  dapat dikatakan  bahwa tenunikat tersebut sudah mendekati kepunahan. Demikian pula, sulaman asli etnis dayak Bahau, walaupun masih ada anggota masyarakat yang membuatnya; akan tetapi dilakukan oleh anggota masyarakat yang sudah usia lanjut, dan rendahnya keberminatan kaum muda untuk melanjutkannya. Berarti, cenderung mendekati kepunahan, apabila tidak dilakukan tindakan untuk menghidupkannya kembali.

 

 

Sulaman etnis dayak Bahau dan Aoheng yang memiliki kesamaan motif,
sebagai contoh sulaman yang patut kita kembangkan sebagai sulaman asli Kalimantan Timur

Tenun asli dayak Aoheng berdasarkan informasi daii orang-orang tua suku ini, dikatakan bahwa bahan baku utamanya  berasal dari  perpaduan serat kulit kayu, akar gantung dan kapas. Dilihat dari penggunaan bahannya saja sudah cukup kompleks untuk mengolahnya, apalagi menjadikannya sebagai tenun ikat; Sedangkan sulaman dayak Bahau, aslinya terbuat dari benang yang diambil dari perca-perca kain. Tentunya, kompleksitas proses pembautan sulaman ini relatif tidak ada, karena bahan bakunya dapat digantikan dengan penggunaan benang.
Perbedaan kompleksitas kedua hal diatas, tidak berarti harus ada perberdaan upaya penyelamatannya. Oleh karenanya beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan; Pertama, menghimpun hasil tenunan dan sulaman yang masih ada – sebagian merupakan hasil tenunan/sulaman lama, peninggalan dari generasi sebelumnya, yang akan dijadikan referensi. Kedua, sebagai kelanjutan upaya pertama tadi adalah mencari anggota masyarakat (pengrajin) yang masih dapat membuatnya, guna mendalami teknis pembuatannya – paling tidak masih dianggap mampu, dan inipun kalau memang masih ada pengrajin dimaksud. Ketiga, apabila langkah kedua tidak dapat dilaksanakan, maka tindakan berikutnya adalah melakukan pengembangan, dengan cara menghimpun para pengrajin yang memiliki keahlian menenun/mensulam – kelompok inilah yang akan melakukan tindakan rekayasa, baik menyangkut teknis pembuatannya maupun penggunaan bahan baku.
Ketiga langkah tadi masih perlu untuk dijabarkan lebih lanjut implementasinya, namun dukungan semua pihak yang berkepentingan (stakeholder) sangat diperlukan, karena ini bukan pekerjaan yang mudah – penyelamatan seni yang akan punah. Kita akan berdosa terhadap generasi mendatang, apabila tidak dilakukan penyelamatan sejak dini. Mari kita dukung ibu Hangin; jangan biarkan beliau jalan sendirian.

Makna sebuah Motif  
Sulaman dayak Bahau dan Aoheng pada dasarnya memiliki motif yang hampir sama  (lihat penyajian foto sebelumnya); Perlu diingat bahwa motif seni kerajinan tangan, baik berupa anyaman, sulaman maupun produk seni lainnya; memiliki makna tersendiri, bukan hanya sekedar seni – akan tetapi sebagai gambaran daripada manifestasi hubungan dinamis manusia (masyarakat dayak) dengan alam sekitarnya, yang telah memberikan penghidupan; juga merupakan manifestasi hubungan manusia dengan penciptaNya, yang kesemuanya diaktualisasikan dengan seni, sehingga wajar setiap motif etnis dayak berbeda – bergantung pada falsafah hidup dan budaya yang terbentuk pada setiap suku/anak suku dayak.
Perkembangan zaman tentunya akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan seni etnis dayak, termasuk seni anyaman dan sulaman, namun tidak pada motif dasarnya. Penyesuaian terhadap perkembangan zaman, disamping untuk menjadikannya lebih dinamis sebagai seni kontemporer; dimaksudkan pula untuk mengikuti permintaan pasar, yang cenderung mengarah pada nilai-nilai natural (back to nature).

Munculnya Kartini lain
Mobilitas kehidupan manusia ada batasnya, karena termakan usia – demikian pula ibu Hangin, mobilitasnya sudah mulai terbatas. Perlu ada generasi berikutnya sebagai penerus; Salah satunya adalah para pengrajin yang selama ini telah mendapatkan binaannya secara teknis. Namun itu belum cukup, karena masih diperlukan binaan dalam bentuk lainnya, seperti memberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan, pameran didalam dan diluar negeri serta perluasan peluang pasar.
Dari beberapa bentuk binaan diatas, yang paling prinsip adalah perluasan pasar. karena selain adanya kepastian pasar atas produk seni yang dihasilkan, juga memberikan penghasilan tambahan, sehingga dapat menjadi kegiatan produktif. Kalau ini semua dapat dilakukan . kelak akan muncul kartini-kartini perbatasan lainnya, yang mampu menjaga kelestarian budaya masyarakat perbatasan, khususnya etnis dayak.

O l e h :
Diddy Rusdiansyah A.D, SE., MM
Kepala Bidang Pembinaan Ekonomi & Dunia Usaha Badan Pengelolaan Kawasan Perbatasan, Pedalaman & Daerah Tertinggal Provinsi Kaltim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *