Press ESC to close

MENIKMATI KULINER KHAS KOTA SAMARINDA DI WARUNG TRADISIONAL : Menjaga Identitas Nilai Melalui Interaksi Sosial **)

O l e h :

Diddy Rusdiansyah A.D, SE, MM, M.Si

P e n g a n t a r

Sepanjang Jl. Pangeran Diponegoro ferdapat 3 warung/kedai tradisional yang menjajakan kuliner khas daerah. Bagi penduduk luar Kota Samarinda lebih mengenal keberadaan Hotel Senyiur  berlokasi di jalan yang sama. Ditempat lainnya, di Jl. Awang Long terdapat warung/kedai tradisional  lainnya.  Keempat warung tersebut walaupun cukup sederhana, namun jajanan/makanan yang dijajakan tidak sesederhana penampilan fisiknya, banyak pilihan jajanan yang mengugah selera, sedangkan makanannya penuh dengan sensasi kenikmatan saat disantap. Faktanya, warung tradsional tidak lagi sekedar tempat menjajakan jajanan/makanan saja, akan tetapi dapat menjadi tempat melakukan interaksi sosial.

Diawali langkah kita masuk ke Warung (Istana Kue Tradisional) Hj. Ulfah, yang menjajakan beberapa kue andalannya yang sudah melegenda, yaitu  kroncong, bingka kentang (istilah kerennya kue lumpur) dan roti pisang. Ketiga kue tadi àdonannya diolah dan dimasak di tempat, sehingga pelanggan dapat melihat secara langsung dan menikmatinya dalam kondisi masih hangat. Di Warung Hj. Ulfah dijajakan pula beragam jajanan tradisional lainnya, seperti pundut nasi dan pundut pisang. Jajanan/makanan yang ada tersebut dapat dinikmati bersama kopi atau teh hangat, dan biasanya ditutup dengan sajian telor ayam kampung setengah matang. Pilihan makanan-nya berupa nasi kebuli, nasi kuning dan bihun goreng yang disajikan dalam bungkus daun pisang sebagai dagangan titipan (konsinyasi).

Tidak jauh dari Warung Hj. Ulfah dan hanya berseberangan jalan terdapat Warung Kopi Taufik yang menjajakan nasi kuning dan lontong sayur sebagai menu andalannya. Selain itu, terdapat pula jajanan roti dan kue kering khas China tempo doeloe yang melengkapi sajian kopi atau teh. Kue-kue tersebut diproduksi sendiri secara turun menurun dari generasi sebelumnya, disamping ada pula menjajakan kue titipan pemasok rutin.

Masih di jalan yang sama namun cukup jauh jaraknya dari Warung Kopi Taufik, yaitu sekitar 1 km, kita akan mendapati R.M Amado, fokus menjajakan soto banjar serta mie ayam rebus dan goreng. Telor yang digunakan adalah telor ayam kampung, termasuk penggunaan daging ayam-nya.

Sementara Kedai Endah berada di Jalan Awang Long, menjajakan jajanan/makanan lebih bervariatif dibandingkan Warung Hj. Ulfah, namun merupakan dagangan titipan (konsinyasi) dari banyak pemasok, tidak mengolah sendiri jajanan/makanan andalannya. Lokasi warung cukup strategis berada di sekitar wilayah perkantoran Instansi Pemerintah, TNI-Polri dan Perbankan

Profil Pelanggan : Sudah Terpetakan

Kopi dan teh adalah minuman universal, sembari meminumnya  banyak ragam pilihan jajanan/makanan sebagai pendampingnya sesuai selera masing-masing. Umumnya kopi atau teh lebih tepat dinikmati bersama jajanan khas (tradisional), dinikmati di pagi hari sekitar pukul 06.00 – 09.00. Inilah fakta sebenarnya gambaran para pelanggan di Warung Hj. Ulfah maupun Kedai Endah.

Pelanggan dimaksud sebagian besar adalah pegawai/karyawan instansi pemerintahan maupun swasta serta para pensiunan, dengan rentang usia yang dikategorikan dewasa hingga lansia. Mereka yang berlatar belakang pegawai/karyawan berkunjung pada ke-2 warung tersebut untuk sekedar sarapan, setelah mengantar anak sekolah dan/atau mengisi daftar hadir di kantor. Mereka tidak selalu ada janjian sebelumnya, namun karena sudah terbiasa sarapan di warung tersebut, sehingga pertemuan terjadi tanpa sengaja, akan tetapi hal ini terjadi berulang kali. Mereka menerapkan sistem BSS (bayar sendiri-sendiri), kecuali ada diantaranya mendapatkan rezeki berlebih akan bertindak sebagai “boss”. Diantara mereka selalu bergantian menjadi boss.

Tampak depan R.M. AMADO, warung Soto Banjar, terletak di Jl. Pangeran Diponegro – Samarinda. Warung ini menjual pula mie ayam rebus/goreng khas Banjar

 

Sedangkan para lansia yang merupakan pensiunan, menjadikan waktu sarapan sebagai kesempatan saling melepas kangen, mendiskusikan banyak hal yang kadang kala diselingi canda tawa lepas, atau sebaliknya tampak raut wajah serius tatkala membicarakan suatu hal  tertentu. Umumnya para lansia berkumpul setelah sholat subuh berjemaah atau sudah adajanjian sebelumnya untuk bertemu dan sekaligus sarapan bersama.

Pelanggan lainnya membeli dengan sistem hit and run, yaitu beli apa yang dibutuhkan dan selanjutnya pulang ke rumah atau kantor, untuk menikmatinya bersama keluarga atau rekan kerja. Biasanya mereka datang ke Warung lebih awal agar memiliki kesempatan memilih banyak ragam jajanan/makanan yang digemari.

Warung/Kedai Tradisional :  Wadah Berinterkasi

Sebelumnya sudah disinggung profil pelanggan warung/kedai tradisional yang menjajakan jajanan/makanan khas daerah, dilihat dari rentang usia, jam kunjungan maupun kebiasaannya. Faktanya, warung/kedai sebagai tempat pertemuan (interaksi) pelbagai kalangan masyarakat lokal, sehingga bukan hanya sekedar menjadi tempat untuk membeli jajanan/makanan saja. Oleh karenanya, warung bersimbiosis sebagai kedai kopi ditambah

Tampak depan dan suasana dalam Warung Kopi Taufik, yang terletak di Jl. Pangeran Diponegro, Samarinda. Warung ini menjual nasi kuning dan lontong sayur terutama di pagi hari, sedangkan siang hingga malam hari  sebaai sebagai warung kopi

jajanan ringan tradisional sebagai pelengkapnya. Pelanggan yang berkunjung sekitar pukul 06.00 – 09.00 umumnya untuk sarapan, sedangkan diatas jam tersebut menjadikan warung sebagai tempat pertemuan guna membicarakan banyak hal, dimana pertemuannya sendiri sudah disepakati bersama (ada janjian).

Apapun pilihan waktunya, warung/kedai sudah menjadi tempat berinteraksi sosial yang murah sembari menikmati jajanan/makanan tradisional, dimana segmen-nya adalah kalangan orang dewasa hingga lansia, serta tidak membedakan tingkatan status sosial-ekonomi, karena mereka hadir dalam kapasitas individu, baik dalam ikatan  pertemanan, kolega pekerjaan atau alumni sekolah/perguruan tinggi yang sekedar reuni terbatas.

Interaksi Anak-anak Muda : Pilihannya Cafe

Interaksi sosial dikalangan anak-anak muda dilakukan di cafe, dengan pilihan jajanan/makanan a la kekinian, walaupun tetap memyajiksn kopi atau teh, akan tetapi gaya penyajiannya berbeda, demikian pula jenis varian kopi atau teh lebih bervariatif

Tampak depan dan dalam Kedai Endah, di Jl. Awang Long (atas), Istana Kue Tradisional Hj. Ulfah, di Jl. P. Diponegoro (bawah), ke-2 warung tersebut berada di Ssmsrinda. Menjual jajanan/makanan khas daerah yang sudah melegenda

Gambaran diatas mengindikasikan bahwa warung/kedai tradisional memiliki pangsa pasarnya sendiri terutama dari kalangan orang-orang dewasa hingga mereka yang sudah lansia, atau mereka yang lahir sekitar tahun 1960-an. Sementara, generasi muda saat ini yang lahir di sekitar tahun 1990-an keatas cenderung memilih cafe kekinian sebagai tempat interaksi untuk kongkow-kongkow.

Pola interaksi di cafe tidak terlepas dari pemanfaatan TIK (teknologi informatika & komunikasi) karena tersedianya fasilitas wifi. Interaksi anak muda kadang kala lebih menonjolkan privasinya, akibat kesibukan dengan perangkat TIK. Berbeda halnya interaksi di warung/kedai yang lebih dinamis, sehingga suasana menjadi sedikit riuh namun tidak saling mengganggu sesama pelanggan. Tidak terkesan penonjolan privasi, kecuali pelanggan bersangkutan hadir seorang diri dan tidak ingin bergabung dengan lainnya.

Pergeseran Nilai

Kemajuan TIK cukup terasa pemanfaatannya pada cafe-cafe yang sudah eksis hingga ke pelosok wilayah administratif Kota Samarinda. Standar minimal cafe untuk dapat eksis adalah memiliki wifi, masik (dapat berupa life music) dan peralatan audio visual, serta menawarkan variasi minuman/makanan ringan  yang lagi trendy dikalangan anak-anak muda. Cafe menjadi tempat healing, yaitu sekedar mengisi waktu luang guna menghindari kejenuhan, dan sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa segmentasi-nya adalah anak-anak muda milenial ysng cukup baik memahami TIK.

Akan tetapi, kalau kita jeli memperhatikan perilaku mereka, maka ada kecenderungan pengelompokkan interaksi, dimana mereka hanya menerima anggota kelompoknya saja. Atau lebih cenderung kearah individualisme, tidak mau tahu urusan di sekitarnya akibat sibuk dengan peralatan TIK-nya. Berkembangnya cafe saat ini tentunya tidak terlepas dengan bertambahnya pelanggan dari kalangan anak muda yang memiliki peralatan TIK, paling tidak smart phone. Apalagi di pasaran sudah dibanjiri pelbagai merk smart phone/gadget dengan harga murah (khususnya eks China).

Faktanya, kita akui bahwa pertumbuhan cafe yang cukup pesat ini menciptakan lapangan kerja, yaitu menyerap tenaga kerja yang memiliki kemampuan sebagai “barista” dan pramusaji, serta membuka mata rantai pemasok terutama untuk makanan ringan.

Di cafe (tapi tidak selalu demikian), anak muda dapat berselancar di dunia maya tanpa didampingi oleh orang tua, bahkan dalam waktu cukup lama, baik di siamg dan/atau di malam hari. Di jaman now ini, bukan hal baru kalau anak-anak sekolah (umumnya SLTP/SLTA)  mengerjakan tugas sekolah di cafe bersama dengan kelompoknya. Lèbih rileks dan mendapatkan jaringan internet gratis, itulah yang menjadi alasannya.  ADA PERUBAHAN GAYA HIDUP dikalangan anak-anak muda tanpa kita sadari.

PERAN RUMAH sebagai pembentuk kharakter anak sudah diambil alih oleh cafe. INILAH PERGESERSN NILAI yamg saya maksudkan. Socio Culture yang seharusnya lebih banyak dipengaruhi interaksi sesama anggota keluarga, nyata lebih dipengaruhi lingkungan eksternal.

 

Fakta Kebenaran : Jangan Ikut Tergeser

Mensitir pendapat Dahlan Iskan bahwa kebenaran tidak lagi didasarkan atas fakta-fakta yang ada, namun saat ini fakta-fakta dimaksud digantikan oleh persepsi yang dapat dibentuk (framing) sesuai kepentingan “pembentuknya”, banyak influenzer atau buzzer yang dspat memerankan fungsi pembentuk opini, untuk menciptakan kebenaran baru karena persepsi.

Semuanya itu dimungkinkan melalui pelbagai platform media khususnya media on line (medsos), baik instagram maupun facebook. Media tersebut merupakan idola dikalangan anak-anak muda jaman now. Mereka menjadi lebih kritis merupakan suatu hal yang lumrah, namun apabila sikap kritis tersebut karena terbentuk dari kebenaran yang dipersepsikan maka kita selaku orang tua harus segera mengingatkannya. Jangan dibiarkan, karena dapat mengakibatkan pengkultusan terhadap individu tertentu, atau meyakini kebenaran yang tidak benar. Jangan biarkan bahaya laten ini mepengaruhi pemikiran anak-anak kita.

Artinya keberadaan cafe tidak dapat dihindari, yang harus kita hindari adalah tidak membiasakan anak-anak kita selalu berada di cafe. Untuk keperluan interakasi sosial dengan teman-temannya dapat kita toleransi agar tidak “kuper”. Kembali menjadikan rumah sebagai tempat yang paling indah, yaitu keluarga. Sedikit cuplikan bait lagu KELUARGA  CEMARA dapat menjadi ilham bagi kita semua.

Pergeseran nilai sebagai akibat interaksi sosial dikalangan anak-anak muda tidak selalu dikonotasi sebagai hal negatif, mereka memiliki literasi TIK lebih baik sejalan dengan tuntutan era revolusi industri 4.0. Tugas kita selaku orang tua adalah membimbing anak-anak kita memiliki pemahaman terhadap nilai-nilai hakiki yang berakar dari budaya Indonesia, khususnya budaya lokal serta yang lebih penting lagi adalah nilai-nilai keagamaan. RuMAH sebagai benteng utama untuk memproteksi anak-anak muda lebih memahami nilai kebenaran yang hakiki dimaksud, dan jadikan rumah sebagai tempat interkasi keluarga, bukan sekedar tempat singgah tanpa ada makna.

Jadoel Bukan Berarti Kampungan

Sesuatu hal yang dikonotasikan eks jaman doeloe (jadoel) tidak berarti kampungan. Bahkan sebaliknya, dengan konsep back to nature maka terkesan segala sesuatunya dinilai baik (“bagus”) adalah dalam kondisi alami, termasuk konsep tempat kuliner yang ditata dengan gaya tempo doeloe lagi “ngetren” saat ini. Malang Heritage sebagai contohnya, Jl. Jend. Basuki Rahmat dikemas bergaya tempo ooeloe.

Kenyataannya bahwa warung/kedai yang ada sekarang ini sudah terkesan tampilan fisiknya cukup sederhana, tidak ada perubahan prinsip sejak awal berdiri. Perabotan yang digunakan masih bergaya lama. Selain itu, tidak menyediakan fasilitas internet (wifi), sehingga pelanggan yang memasuki warung/kedai tradisional tidak akan berpikir untuk berselancar di dunia maya.

Dalam benak mereka hanya berpikir untuk sarapan di pagi hari; atau siang harinya sekedar ngopi ditambah camilan kue tradisional (+ telor ayam ½ matang). Apabila bertemu lawan bicara maka terjadi pembicaraan terbuka dalam suasana akrab, tidak ada perbedaan status. Interaksi sosial terjadi secara alami, akan saling mengenal yang pada awalnya belum saling mengenal, hingga akhirnya menumbuhkan pertemanan.

Pelanggan tetap membawa handphone untuk mudah dihubungi, akan tetapi saat berada di warung/kedai tetap membutuhkan lawan bicara untuk salin diskusi. Cukup lama di warung/kedai bukan karena adanya fasilitas wifi gratis seperti halnya cafe,  dimana sekedar memesan 1 gelas kopi duduk berjam-jam. Pelanggan berada cukup lama di warung/kedai lebih disebabkan hangatnya pembicaraan diantara mereka.

Interaksi sosial sesama pelanggan selaku anggota masyarakat sepatutnya kita tumbuhkan lagi. Kita harus dapat memberikan warna tersendiri bagi Kota Samarinda. Peradaban boleh berubah namun tidak merubah nilai-nilai kehidupan yang sejajalan dengan budaya Indonesia dan agama.

Revitalisasi Kota Samarinda secara fisik, harus diimbangi pula dengan revitalisasi sosial budaya masyarakat yang semakin majemuk sebagai modal pembangunan non fisik.

 

 

**) Tulisan ini kelanjutan dari tulisan-tulisan sebelumnya, yaitu mengangkat isu aktual sejalan dengan revitalisasi Kota Samarinda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *